Di Awal Tahun, Seniman Digegerkan Issu KNPI Akan Tempati Gedung Kesenian SulSel

  • Whatsapp
Di Awal Tahun, Seniman Digegerkan Issu KNPI Akan Tempati Gedung Kesenian SulSel
banner 468x60

LINKberita.id – Makassar: Gedung kesenian societeit de harmonie Sulawesi Selatan, pada tahun 1979, Wakil Presiden RI Adam Malik menyerahkan kepada seniman Sulsel di acara musyawarah Dewan Kesenian se Indonesia.

“Begitu sejarahnya. Negara yang besar sangat menghargai sejarahnya”, ungkap para pemerhati senibudaya dan seniman Sulsel yang berkumpul di Daun Cafe Jl. Daeng Tata Makassar Jumat-3-01-2020, membicarakan issu yang beredar bahwa KNPI Sulsel di awal tahun 2020 ini, ingin berkantor di Gedung kesenian societeit de harmonie.

Bagi saya, kata Halim MD, salah seorang seniman yang hadir dalam pertemuan itu, bahwa apa yang ingin dilakukan oleh KNPI, merupakan pelanggaran kode etik sosial terhadap kehidupan kemasyarakatan. Menurut Halim, organisasi KNPI bukanlah organisasi senibudaya dan pada sisi lainnya, organisasi tersebut juga dalam sejarahnya di negeri ini merupakan organisasi pemuda yang sangat kuat kaitannya dengan politik praktis.

“Dalam konteks itu, organisasi tersebut jika berada di lingkungan kesenian telah melanggar tata cara organisasi itu sendiri. Disamping itu, kita juga merasakan adanya praktik nepotisme via salah seorang pengurus KNPI yang juga keluarga dari penguasa di Sulsel ini”, jelasnya.

Sementara Andi. Agung Iskandar, salah seorang seniman pemeran film Atiraja yang juga Aktivis dan pers dalam pertemuan itu menegaskan, bahwa keinginan KNPI berkantor di gedung kesenian societeit de harmonie harus dan wajib di tolak oleh para seniman dan kaum penggemar senibudaya.

Menurutnya, penolakan ini didasarkan kepada sikap moral, bahwa lingkungan kesenian sebagai penjaga nilai budaya harus bersih dari praktik politik praktis, dan disisi lain, bahwa gedung tersebut merupakan fasilitas untuk para seniman dan penggemar senibudaya.

“Dan sangat jelas dalam UU Negara RI, bahwa setiap kota harus memiliki gedung kesenian sebagai ruang publik pengembangan senibudaya yang tidak menganut unsur politik praktis”, tegasnya.

Andi. Agung juga mengungkapkan, bahwa dalam pertemuan para seniman dan penggemar senibudaya Sulsel tersebut, merespon penolakan dan akan dilanjutkan dengan gerakan aksi, kuncinya.

Redaksi

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *